Golkar Kalteng Jaga Kekompakan Jelang Musda XI, Dua Kandidat Dipertemukan Lewat Mediasi

PALANGKA RAYA – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Tengah yang direncanakan berlangsung pada 29–30 November 2025, dinamika internal partai turut menguat. Hal tersebut disampaikan Muhammad Rizal, politisi Partai Golkar yang juga Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPD Partai Golkar Provinsi Kalteng, dalam keterangannya mengenai proses yang sedang berlangsung di internal Golkar.

Rizal mengatakan bahwa kompetisi antar kader menjelang Musda merupakan hal yang wajar dalam tradisi organisasi.
“Partai Golkar adalah partai kader. Setiap menjelang kontestasi Musda, wajar dan logis jika para kader muncul dan berkompetisi meraih pucuk pimpinan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Golkar sebagai partai besar yang telah berusia 61 tahun selalu menegakkan prinsip demokrasi. Para kader yang ingin maju dalam Musda mengikuti mekanisme partai, memenuhi syarat dan kriteria, serta membangun komunikasi dengan voter kabupaten/kota maupun organisasi pendiri dan yang didirikan.

“Itulah bagian dari proses. Di tahap awal, dinamika pasti muncul. Ada saling klaim dukungan, membaca situasi, hingga menganalisis perkembangan politik pusat dan daerah,” tambahnya.

Rizal menyebutkan bahwa DPP Partai Golkar turut mencermati dinamika yang terjadi. Menurutnya, persaingan yang terlalu ketat dapat menimbulkan ketegangan internal.

“DPP melihat jika persaingan kandidat terlalu masif, bisa memunculkan keretakan, distorsi, bahkan konflik antar pendukung. Ini tentu tidak menguntungkan bagi perkembangan partai ke depan,” jelasnya.

Sebagai bagian dari identitas politik Golkar, nilai azas Musyawarah Mufakat disebut menjadi landasan penting dalam meredam potensi perpecahan. Prinsip ini, menurut Rizal, merefleksikan wujud Demokrasi Pancasila yang selama ini menjadi perekat hubungan antar kader. Musyawarah mufakat dianggap efektif menjadi jembatan kompromi, sekaligus mengharmoniskan dukungan elektoral kedua kandidat agar tidak berkembang menjadi polarisasi berkepanjangan.

“Kedua kader ini dipertemukan dengan asas musyawarah mufakat. Mereka disatukan agar rukun, tidak saling menjatuhkan, dan fokus membesarkan Partai Golkar Kalteng,” kata Rizal.

Proses mediasi tersebut, menurut Rizal, merupakan bagian dari komitmen Golkar dalam menjaga budaya musyawarah sebagai mekanisme penyelesaian perbedaan pandangan di internal organisasi.

Dengan adanya titik temu antara kedua kandidat, persiapan Musda XI disebut berjalan lebih solid. Panitia pengarah dan panitia pelaksana telah terbentuk dan mulai menyusun seluruh rangkaian kegiatan.

Rizal menuturkan, “Insya Allah Musda XI bisa dilaksanakan dalam waktu dekat dan akan dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar bersama tokoh nasional lainnya.”ungkapnya.

Menutup keterangannya, Rizal menegaskan bahwa seluruh proses yang berjalan mencerminkan mekanisme pengambilan keputusan kolektif di tubuh Partai Golkar. “Itulah tata cara pengambilan keputusan di Partai Golkar. Jadi tidak ada istilah calon tunggal,” pungkasnya.

Dengan membuktikan bahwa kader Partai Golkar siap mengamankan keputusan dan kebijakan bersama Partai Golkar.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *